Menelusuri Pemaknaan 'Guru' dalam Masyarakat Betawi

Menelusuri Pemaknaan ‘Guru’ dalam Masyarakat Betawi

Menelusuri Pemaknaan ‘Guru‘ dalam Masyarakat Betawi – “Izin bang guruujar seorang murid  maen pukulan kepada ketua Perguruan Silat Betawi Langkah Troktok di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan menawarkan kursi. Sang ketua yang bernama Nasri Syukri segera menyilakan, disertai langkah tergopoh-gopoh dari si murid.

Adab tawadu’, kata Bang Nasri tak hanya menjadi sikap wajib yang hanya dimiliki oleh murid-murid di Perguruan Silat Betawi Langkah Troktok. Namun, harus menjadi tradisi semua murid di perguruan maen pukul Betawi. Sikap tersebut menjadi cermin citra sang guru mendidik murid-muridnya. “Tak hanya soal maen pukulan, tapi adab dan sikapnya di luar tentu menjadi penilaian masyarakat. Kalau guru ridho maka ilmunya akan berkah,” imbuh dia.

Kentalnya hubungan antara guru dan murid dibarengi dengan tradisi adab manjadi warna dalam setiap perguruan maen pukul di Betawi. Tak ayal jika kemudian sang murid memanggilnya dengan sapaan ‘Guru’. ‘Guru’ dalam konteks ini bukanlah pengajar secara formal yang berada dalam suatu kelas. Namun, lebih kepada guru silat yang ‘menggugu’ dan meniru apa yang diajarkan oleh guru silatnya.

Tak hanya soal maen pukulan, tapi adab dan sikapnya di luar tentu menjadi penilaian masyarakat. Kalau guru ridho maka ilmunya akan berkah

Sejarahwan Islam Betawi, Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Murodi Al-Batawi menyatakan kalangan komunitas Betawi memiliki berbagai macam penyebutan untuk orang berilmu (‘Alim). Misalnya, ‘Mu’allim’, ‘Syeikh’, ‘Tuan Guru’, ‘Guru’, hingga ‘Ustadz’.

Menelusuri Pemaknaan Guru dalam Masyarakat Betawi

Adapun khusus untuk gelar ‘Mu’allim’, sambungnya merupakan gelar yang diberikan pada level pemula atau seseorang yang belum memiliki banyak ilmu dan murid. Adapun untuk penyebutan ‘Ustadz’ mengacu pada seorang pengajar ilmu agama Islam.

Nomenklatur penyebutan ‘Tuan Guru’ atau ‘Guru’ diadopsi dari penyebutan daerah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Mereka adalah penyebar dan pengajar ilmu agama Islam yang datang dan menetap serta menikah dengan perempuan Betawi,” ujarnya kepada senibudayabetawi.com, Rabu (24/11).

Dari hubungan ini pula, anak cucu keturunan mereka menyebar ke berbagai wilayah di Betawi. Seiring berjalannya waktu, mereka tak hanya menyebarkan agama Islam, tapi juga menjadi guru silat. Pengalaman menjadi jawara kampung dan proses pengadopsian dengan berbagai jenis maen pukulan menjadikan mereka semakin mahir dalam ilmu bela diri. “Jadilah dia sebagai seorang guru agama dan juga guru silat,” imbuh dia.

Sementara menukil buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi: Melacak Jaringan Ulama Betawi dari Awal Abad ke-19 sampai Abad ke-21 (2011), ‘Guru’ mengacu status keulamaan Betawi. Penyebutan ‘Guru’ merupakan level tertinggi setelah ‘Mu’allim’ dan ‘Ustadz’.‘Guru’ merupakan penamaan ulama yang setara dengan Syaikhul Masyayikh. Mereka dianggap representatif mengeluarkan fatwa agama dalam spesialisasi bidang keilmuan yang dikuasai.

Abdul Aziz, dalam Islam dan Masyarakat Betawi , (2002) menyebut terdapat enam guru dari para ulama Betawi akhir abad ke-19 dan pertengahan abad ke-20. Mereka adalah Guru Mansur (Jembatan Lima), Guru Marzuki (Cipinang Muara), Guru Mahmud Ramli (Menteng), Guru Madjid (Pekojan), serta Guru Mughni (Kuningan).

Ramadani Wahyu

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.