Membumikan Tarian Betawi

Konsisten Membumikan Tarian Betawi, Begini Eksistensi Sanggar Tari Aliskia Denali

“Yuk, cepat pakai korsetnya ya,” ujar Eni kepada siswanya Sanggar Tari Aliskia Denali.

Sontak, mereka langsung beringsut memakai korset dan menyelinapkan kipas di perut. Tak lupa, sebuah masker menutup rapat di mulut masing-masing. Rutinitas membumikan Tarian Betawi itu nyaris tiap minggu dilakukan setiap hari Rabu siang, yakni berlatih menari.

Lenggak-lenggok tari kreasi yang mereka bawakan seirama dengan perpaduan musik rancak yang mengiringinya. Sambil memegang kipas, mereka mengayunkannya di atas dan bawah. Sesekali kipas itu diselipkan di perut lagi, lalu menari dengan tangan kosong. Begitu luwes untuk membumikan tari kreasi Putri Nusantara–Tarian Betawi.

Adapun sanggar yang beralamat di Jl. Haji Radi RT 1 RW 9 Nomor 73 Kreo, Larangan, Tangerang memang fokus untuk tarian tradisional. Telah eksis sejak tahun 2010, sanggar tari ini telah biasa membawakan tarian Betawi.

Lenggang Nyai, Kinang Kilaras, Sirih Kuning hingga Nandak Ganjen merupakan tarian pakem Betawi—sebutan untuk tari tradisional Betawi yang biasa mereka mainkan.

Pendiri sekaligus Ketua Sanggar Tari Aliskia Denali, Eni Ekaningsih menyatakan bahwa sanggarnya memang sangat concern terhadap tarian Betawi. Hanya saja, jenis tarian yang biasa mereka mainkan musti disesuaikan pula dengan karakteristik anggotanya.

“Belajar tarian pakem itu harus karena untuk pengetahuan mereka. Tapi aku juga melihat mereka cocoknya nari apa, wiraganya kayak apa. Tari Betawi kan ada lembutnya, ada tegasnya, ada silatnya juga. Kalau mereka lebih ke gerakan cepat,” ujarnya kepada senibudayabetawi.com.

Ya, beberapa tari tradisional Betawi memang memiliki gerakan khasnya masing-masing. Gerakan ini biasanya juga berkaitan dengan filosofi tarian tersebut. Misalnya, untuk tarian kedua yang mereka mainkan yakni Sirih Kuning.

Tari Sirih Kuning biasanya ditampilkan untuk mengiringi prosesi pernikahan adat suku Betawi ketika mempelai laki-laki akan menyerahkan ‘Sirih Dare’ kepada pengantin perempuan. Adapun ‘Sirih Dare’ terdiri dari empat belas lembar daun sirih dengan posisi tujuh lembar di sisi kanan dan tujuh di kiri.

Sirih Dare ini kemudian diberikan sebagai tanda persembahan. Daun siri yang berbentuk kerucut ini melambangkan cinta serta kasih saying suami yang tinggi kepada istrinya.

Tak Lupakan Pakem

Kendati telah bergelut dengan dunia tari sejak menginjak jenjang sekolah dasar (SD), Eni mengaku bahwa tak mudah untuk mempelajari tarian pakem Betawi. Sebab, saat memainkan harus benar-benar sesuai aturan atau pakem yang ada.

Tak ayal, di sela-sela latihan, perempuan yang juga akrab dengan dunia Pramuka ini sering kali menegur siswanya yang melakukan kekeliruan gerakan. “Harus rendah terus ya (kakinya), membumi karena ini tari tradisional. Tidak ujug-ujug tinggi,” ujarnya.

Fokus Tari Kreasi

Mengingat pentingnya pakem dalam tari tradisional Betawi yang tak boleh dimainkan asal-asalan, perempuan berhijab ini fokus untuk memilih jalur tari kreasi—dengan koreografi sendiri. Ini juga sekaligus bertujuan untuk membentuk agar siswa-siswa didikannya bisa membuat tarian sendiri.

“Karena kalau sampai salah pakem kan jadi masalah juga. Kita lebih ke mencari koreo sendiri, musiknya pun bisa direasikan. Aku berharap mereka bisa membuat tarian sendiri. Jadi ada musik apa aja, mereka bisa bikin,” tutur perempuan yang juga aktif sebagai instruktur tari di perusahaan-perusahaan ini.

Adapun dalam proses penggarapan tari kreasi, ia juga harus menciptakan filosofi hingga gerakan sendiri. Misalnya, tarian Putri Nusantara yang merupakan campuran tarian dari beragam daerah di Indonesia.

Salah satu siswa, Keyzia Anandita Kirana Setiaji menyatakan semngatnya untuk belajar tari tradisional. Ia memang masih lima bulan belajar di sanggar, tapi ia juga mengaku terbuka untuk belajar tari modern, seperti K-Pop.

“Tradisional bisa, modern juga bisa. Kalau di sanggar pasti tradisional. Hanya, kalau di rumah aku suka modern yang K-Pop, agar gerakan aku makin bagus aja, biar lentur,” kata siswa SMAN 23 Jakarta ini.

Ia sekaligus bersepakat bahwa tarian tradisional memang lebih kompleks dalam memainkannya—terlebih soal teknik gerakan yang memang harus dikuasai dengan matang. Adapun, sebelum menguasai teknis, biasanya penari harus hafal semua gerakan di setiap tarian.

“Satu atau dua jam saja bisa sih (hafal). Yang susah itu tekniknya, misal ada tarian Betawi yang menurut aku susah seperti Kinang Kilaras karena banyak gerakannya yang ke kiri,” kata perempuan yang bercita-cita sebagai guru tari ini. Admin

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.