Kue Rangi khas Betawi

Kue Rangi Khas Betawi, Riwayat Manismu Kini

Berteman gerobak kecilnya, Bang Somad menjajakan kue rangi yang ia jalankan setiap sore hingga malam hari. Tepatnya di pinggir Jalan Panjang Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan nyaris tiap hari ia dengan setia memasak kue rangi khas Betawi yang mulai langka itu.

Ya, dibanding kudapan-kudapan khas Betawi lain, kue rangi terbilang sulit ditemukan. Masalahnya, bukan karena bahannya yang sulit ditemukan. Namun, peminatnya sendiri yang mulai sedikit. “Paling banter sehari bisa 20 an. Kan jajanan seperti ini tidak semua orang kenal dan tahu,” ujarnya kepada¬†senibudayabetawi.com, Kamis (8/4).

Rasa manis gurih campuran tepung dan kelapa parut yang berpadu dengan olesan gula merah ternyata tak seiring dengan riwayat kue manis khas Betawi ini. Hanya sesekali, terlihat beberapa pembeli mampir. Selebihnya, Somad hanya menunggu sembari memainkan gawainya.

Eksistensi Kue Rangi

Menurut lelaki asli Betawi ini, pergeseran selera kudapan orang-orang masa kini terlihat mencolok. Terlebih, sekarang tengah dihadapkan pada beragam jenis olahan kudapan dari luar negeri. Tak usah jauh-jauh, di depan dan samping gerobak Bang Somad, beberapa stand berlabel jajanan ala Jepang dan Korea turut membanjiri.

“Masalah selera sih memang tak bisa diatur ya, tapi kalau mempertahankan kuliner Betawi asli ini kan soal lain,” kata dia.

Aroma gurih dari campuran kue rangi yang telah dipanggang begitu menggoda saya untuk kemudian mencicipi kue asli Betawi ini. Cetakan kue rangi sangat mirip dengan cetakan kue pancong. Akan tetapi, ukuran cetakan kue manis ini lebih kecil.

Bahan utama kue tradisional Betawi ini diantaranya kelapa tua, tepung kanji atau tapioka, air dan garam. Uniknya, kue rangi dipanggang menggunakan tungku kecil. “Harus dimasak di tungku memang karena rasa yang dihasilkan lebih mantap,” kata dia sembari memasukkan kayu ke dalam tungku.

Dan taraaa, begitu kue ini diangkat dari cetakan, dengan sigap Bang Somad langsung mengolesinya dengan gula merah. Adapun gula merah ini dicampur dengan tepung kanji sehingga menghasilkan olesan gula merah yang kental.

Menariknya, Bang Somad menambahkan potongan-potongan nanas di dalam olesan gula merah ini. Aroma segar nanas dan gula merah membuat semakin tergiur untuk mencicipinya.

Seporsi kue rangi khas Betawi biasa dihargai Rp 5000 saja. Lelaki berusia 35 tahun ini sekaligus menegaskan bahwa tak ada alasan untuk meninggalkan dan melupakan kudapan khas Betawi. “Sekalipun sekarang banyak jajanan dari luar tapi kita harus tetap melestarikannya,” pungkasnya

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.