Penjaga Sunat Tradisional Betawi, 'Bengkong Si Pitung' Sejak 1989

Penjaga Sunat Tradisional Betawi, ‘Bengkong Si Pitung’ Sejak 1989

Penjaga Sunat Tradisional Betawi, ‘Bengkong Si Pitung’ Sejak 1989– Pandemi COVID-19 yang memaksa anak-anak belajar dari rumah menjadi berkah bagi tukang sunat tradisional Betawi atau Bengkong. Pasien sunat yang biasanya memuncak di musim liburan sekolah, kini mulai tergantikan di hari-hari biasa.

Tangan dingin Mahfudz Zayadi secepat kilat menyembunyikan pisau sunatnya ke saku baju koko. Sementara dua tangannya hanya memegang penjepit saja. Pemandangan yang sama sekali tak menyeramkan dibanding imajinasi anak-anak begitu mendengar kata ‘sunat’.

Candaan dan humor-humor menyelip di sela-sela perbincangannya dengan pasien. Ia memang harus mencairkan suasana agar pasiennya merasa nyaman dan tak takut.

Namun begitu mulai, secepat kilat pula ia memotong penis. Selang hanya dua menitan, ia menyudahi khitan.

Begitulah kiranya Mahfudz menjalani rutinitasnya sebagai tukang sunat Betawi atau Bengkong. Sejak 1989, generasi keempat dari melanjutkan profesi itu secara turun dari buyut, yakni Haji Anwar. Alhasil, berdirilah Bengkong Si Pitung. Ets,. jangan berpikir ini adalah Bengkong jawara. Si Pitung tak lain merupakan singkatan dari Spesialis Jepit Potong Ujung.

Sebelum mendirikan praktek secara mandiri, ia mengikuti dan membantu kemanapun sang ayah, Zayadi praktek. Baru, 15 tahun setelahnya di tengah kondisi kritis sang ayah, ia berani menerima pasien. “Itupun tidak belajar. Selama ikut dulu hanya mengamati, memangku pasien. Karena ini kan harus praktek langsung,” ujarnya kepada senibudayabetawi.com, Kamis (10/6).

Nilai Tradisi yang Masih Kental

Di tengah perkembangan teknologi seperti sekarang ini, sangat mudah untuk menemukan sunat modern. Pasien hanya dibius dan tak bakal mengeluarkan darah. Namun, eksistensi tukang sunat tradisional di kawasan Warung Buncit, Mampang, Jakarta Selatan ini ternyata masih banyak dicari. “Terutama kalau dulu di musim liburan banyak anak-anak yang ke sini,” imbuhnya.

Mahfudz Zayadi mengungkap, ini tak lain karena tradisi orang Betawi zaman dahulu yang masih kental akan nilai-nilai syariat Islam. Di dalamnya, sambung dia terdapat kutipan bahwa sunat atau khitan bisa menjauhkan dari penyakit. “Justru melalui darah yang keluar itu penyakit bisa hilang,” ungkap lelaki yang akrab disapa Pak Haji Mahfudz ini.

Bahkan, ada satu kepercayaan dalam masyarakat Betawi bahwa kalau sudah jodoh , tangan Bengkong manapun tak tergantikan. Tak heran jika sampai detik ini Mahfudz masih memiliki pasien yang juga merupakan cucu dari pelanggan kakeknya dulu. “Mereka (dari Condet) sampai sekarang masih ke sini,” imbuhnya.

Kebanyakan, pasien Bengkong berasal dari luar daerah. Misalnya, Ciputat, Cikarang, hingga Depok. Rata-rata mereka mengetahui Bengkong Si Pitung dari mulut ke mulut.

Beberapa ‘peralatan tempur’ ia perlihatkan kepada senibudayabetawi.com yakni bambu penjepit, pisau pemotong, obat luar berbentuk puyer, betadine serta obat yang diminum. Dia menyebut, rata-rata pasien yang sunat di tempatnya hanya 3-4 hari setelahnya sembuh dan beraktivitas kembali.

“Namun, tetap kembali ke kondisi fisik dan kemanjaan si anak. Ada yang dua hari lalu bisa main layangan. Tapi ada pula yang sampai dua minggu masih terbaring,” pungkas penjaga sunat tradisional Betawi Bengkong Si Pitung Sejak 1989 ini.

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.