Sejarah dan Makna di Balik Peci khas Betawi

Sejarah dan Makna di Balik Peci khas Betawi

Sejarah dan Makna di Balik Peci khas Betawi  — Peci yang menjadi identitas masyarakat Betawi, lambat laun menjadi perlengkapan wajib bagi para pendekar dan jagoan maen pukulan. Peci yang umumnya dipakai oleh mereka yaitu peci hitam polos tanpa motif berbahan beludru. Namun, belakangan banyak juga diantara pada jawara maupun jagoan Betawi yang memakai warna merah.

Konon, keberadaan peci berwarna merah yang dimodif tanpa tali di bagian atas merupakan identitas pendekar atau jawara dan jago maen pukulan—setidaknya hingga akhir tahun 30-an. Namun, lambat laun sempat kemudian ditinggalkan karena dianggap simbol pro kolonial. Adapun peci atau fezzy atau phecy yang beredar di Hindia Belanda yang ditandai berbahan beludru dan berwarna merah merupakan produksi kolonial Italia.

Mengutip Majalah KitaSamaKita, 2003, pada tahun 1931 di Hindia Belanda terjadi protes besar-besaran atas hukuman gantung yang dilakukan oleh pemerintah Italia terhadap pejuang Tripoli (Libya), Syekh Omar Mochtar.

Peci Merah

Wujud protes para tokoh-tokoh pejuang dilakukan dengan cara memboikot dan melenyapkan produk-produk kolonial Italia. Salah satunya yaitu peci merah berbahan tarbus beludru. Pada zaman itu, sebagian besar peci yang beredar berasal dari kolonial Italia. Salah satu tokoh pejuang yakni KH. Agus Salim yang awalnya selalu berpeci beludru merah kemudian menganggalkannya dan mengganti dengan warna hitam.

Kendati demikian, sejarah dan makna di balik peci khas Betawi tak berhenti begitu saja. Peci berwarna merah berbahan beludru kemudian marak kembali digunakan. Tak hanya para jawara hingga jagoan, tapi juga penggiat seni budaya Betawi. Tak asal dipakai begitu saja, posisi peci harus diatur yakni sudutnya terletak di bagian depan dan belakang. Ini tak lain posisi pemakaian peci juga ada maknanya tersendiri.

Pada zaman dahulu, pemakaian peci dengan posisi dudut peci ke samping dianggap sebagai pecundang. Ini tak lain berangkat dari ejekan para penjudi di Betawi. Sebaliknya, posisi peci yang digunakan miring ke bagian kiri marak digunakan para orangtua zaman kolonial. Posisi pemakaian peci ini melambangkan perlawanan kepada pemerintah kolonial.

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.