Marawis dan Identitas Keislaman di Betawi

Marawis dan Identitas Keislaman di Betawi

Senibudayabetawi.comMarawis dan Identitas Keislaman di Betawi – Masyarakat Betawi telah lama dikenal akan identitas nilai-nilai Islamnya yang kuat. Agama Islam bukan lagi sekadar dinilai sebagai agama, tapi kultur yang melekat kuat yang tumbuh subur di kalangan masyarakat Betawi. Tak ayal jika kemudian Islam bahkan menjadi unsur pemersatu yang membuat solidaritas masyarakat Betawi semakin kuat. Identitas ini juga tercermin dalam seni budayanya, yang salah satunya yaitu kesenian marawis

Musik khas marawis yang energik dan bernuansa Islami kerap kali mengundang antusiasme dari masyarakat yang mendengarkannya. Irama pukulannya uang menghentak juga membangkitkan semangat baru. 

Marawis merupakan sebuah grup, biasanya terdiri dari sekitar sepuluh hingga dua puluh orang. Kendati demikian, ketentuan jumlahnya tak pernah pasti. Semakin banyak pemain marawis maka semakin ramai dan semarak. 

Bagi sebagian besar masyarakat Betawi, marawis kerap kali disebut sebagai band gebok (gebok adalah bahasa Betawi artinya pukul) atau tepok. Ini tak lain  karena seni ini sangat has sekali dengan pukulannya yang keras dan cepat.

Nama Marawis itu sendiri diambil dari alat musiknya yaitu marwas. Selain dapat dilihat pada acara ngarak penganten Betawi, marawis kerap kali hadir dalam bentuk festival dan lomba Marawis. Menariknya, penampilannya berbeda-beda tergantung dalam konteks di mana ia digelar.

Misalnya pada acara ngarak penganten pria atau penganten sunat, para anggota grup terlihat informal (walau mereka tetap menggunakan baju seragam) dan lebih leluasa berimprovisasi.

Pada acara ini, hubungan dengan penonton begitu dekat sehingga terjadi komunikasi antara pemain dengan yang menonton. Tak jarang mereka juga sering kali melakukan dialog, utamanya permintaan lagu yang akan dibawakan.

Sementara pada acara festival atau lomba, grup Marawis terlihat lebih formal dan kurang dapat berimprovisasi. Grup musik marawis harus mematuhi ketentuan yang dibuat oleh panitia. Demikian juga terlihat hubungan antara pemain dan penonton begitu renggang, tidak ada tepuk tangan, tidak ada suara ekspresi dari pemain.

Kombinasi Vokal dan Tarian

Alat Marawis tidak dimainkan sepanjang lagu, tapi pada saat-saat tertentu saja. Kendati demikian pukulan pada alat Marawis membentuk irama tersendiri dan kerap kali terdengar saling bersahutan. Marawis dan Identitas Keislaman di Betawi semakin kuat ketika diiringi dengan nyanyian dalam mahrodz dan tarian Samar.

Pada sebuah grup terdapat satu atau dua orang yang bertugas sebagai vokalis yang fasih dalam melafalkan syair, intonasi dan mahrodz. Anggota yang lain tidak berarti tidak turut menyanyi, tapi mereka hanya menjadi penyanyi latar dan pada saat-saat tertentu saja turut menyanyi.

Selain pukulan, alat, lantunan sholawat atau lagu, Marawis juga kerap kali menampilkan tarian. Sebagian menyebutnya dengan Samar atau Saman. Tarian ini merupakan tarian Zapin yang kecepatan tariannya bergantung dengan irama musik. Menariknya, selain fokus pada gerakan kaki, juga didominasi oleh gerakan tubuh berputar. 

Para penari secara serempak  serempak bergerak ke depan dan berputar ke belakang, serta gerakan itu membuat lingkaran. Tarian Zapin biasanya dibawakan oleh dua orang, kadang juga tiga orang. Beberapa pasang secara bergantian menari. Jika dari awal jumlah penarinya dua orang, maka pasangan yang menggantikannya juga berjumlah dua orang, begitu seterusnya.

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.