SIlat Sutera Baja

Mengenal Silat Sutera Baja Asli Kemayoran

Siapa yang tak kenal ‘Macan Kemayoran’? Istilah macan bukan berarti merujuk pada nama salah satu binatang atau julukan salah satu klub sepak bola di Indonesia. Akan tetapi, merujuk pada istilah penyebutan jawara silat di Kemayoran.

Tak ayal jika kita mengenal Murtado, Sang Macan Kemayoran. Sejak zaman era kolonial, Kemayoran telah memang telah terkenal melahirkan jawara-jawara yang tiada duanya. Salah satunya dari Perguruan Silat Sutera Baja.

Nama ‘Sutera Baja’ itu sendiri merupakan suatu singkatan dari Silat Utama Putera Betawi Jaya. Nama itu muncul seiring bergabungnya perguruan yang eksis sejak tahun 1972 ini ke Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

“Dulunya namanya maen pukulan Kemayoran gitu aja. Lalu setelah guru besar kita Bang Mat Marun meninggal, atas inisiatif kita namai Silat Sutera Baja,” kata Deni Mirwandi, pelatih perguruan silat ini kepada senibudayabetawi.com, Selasa (16/2).

Bangkit Kembali

Aliran silat ini juga mengalami dinamika–pernah vakum hingga waktu yang cukup lama sebelum akhirnya sekitar akhir 2015 eksis kembali. Penyebabnya, karena tak ada generasi penerus dan udah sibuk dengan rutinitas masing-masing.

Bang Davi, yang juga merupakan pengurus perguruan menyatakan perlunya untuk menimbulkan kembali maenan ini. Sebab, hal ini merupakan bagian dari pelestarian budaya Betawi.

“Baru sekitar akhir 2015an, awal 2016 kita nimbulin lagi maenan itu. Kita belajar langsung ke Almarhum Bang Haji Berti, dia juga atlet PON di tahun 1970-an,” ujarnya.

Perlu waktu latihan rutin bagi pemilik nama asli Ahmad Sueb ini dan teman-temannya yang memang ingin menyuarakan kembali aliran ini. Ia tak sendiri, tapi bersama dua orang temannya.

“Kita belajar rutin tiap hari satu bulan penuh karena kondisinya urgent untuk mendeskritkan Sutra Baja ini,” imbuhnya.

Yang menjadi ciri khas silat ini yaitu memiliki gerakan yang dipersiapkan bertarung jarak dekat serta ketika posisi lawannya lebih dari satu. Sementara ada 24 jurus yang ada dalam silat ini atau yang lebih dikenal dengan empat penjuru mata angin.

Beberapa nama jurusnya diantarnya langkah tiga, langkah lima, dan gendong macan. Yang menarik, Sutra Baja memiliki nama-nama jurus yang memiliki istilah ‘Kemayoran punya’. Misalnya Gendong Macan.

Deni Mirwandi juga mengimbuhkan bahwa yang menjadi ciri khas lain dari maenan pukul ini yakni pukulannya yang hanya setengah. Pukulan jenis ini merupakan salah satu taktik menipu lawan.

“Selain itu jenis pukulan ini juga membiasakan kita bisa memukul lawan dalam posisi yang sangat dekat,” ujarnya.

Hingga saat ini, perguruan ini telah memiliki tiga cabang, yakni di Depok, Kemayoran dan Lenteng Agung. Silat Sutra Baja sendiri telah masuk ke dalam Warisan Budaya Takbenda tahun 2020 Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Admin

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.