Mengintip Dapur Rahasia Berger Beatawi, Roti Buaya Anak Zaman Sekarang

Mengintip Dapur Rahasia Berger Beatawi, Roti Buaya Anak Zaman Sekarang

Menilik Dapur Rahasia Beatawi Berger, Roti Buaya Anak Zaman Sekarang Roti buaya merupakan kue wajib, hantaran dalam adat perkawinan Betawi. Ini tak lain karena roti ini menyimbolkan kesetiaan satu sama lain. Namun, seiring berjalannya waktu, inovasi dilakukan oleh founder Berger Beatawie, Ade Imam dengan menjadikan roti buaya sebagai roti burger.

Baca Juga: Selebrasi Berger Beatawie agar Roti Buaya tak Mati Gaye

Sekadar meracik roti burger dengan isian di dalamnya merupakan hal biasa. Namun, memastikan pembuatan roti burger bercita rasa khas merupakan persoalan lain. Ya, Berger Beatawie bahkan membuat sendiri roti lapis berbentuk buaya itu.

Pada kesempatan kali ini, senibudayabetawi.com berkesempatan untuk mengintip dapur rahasia Berger Beatawie Roti Buaya Anak Zaman Sekarang Semua bahan dibuat sendiri, termasuk roti buayanya, sebagai roti lapis pengganti roti burger. “Semua kita kerjakan sendiri karena kita ingin menjamin rotinya benar-benar home made,” ungkapnya ditemui senibudayabetawi.com, Kamis (11/11).

Home Made

Terlihat tangan Ade dengan cekatan menguleni adonan roti. Ia menggulung adonan hingga memanjang sebelum akhirnya membentuknya serupa buaya. Dengan detail, ia mainkan gunting di tangannya hingga membentuk tekstur kulit dan gigi buaya. Dan, tak sampai setengah jam, ia berhasil membuat empat buah adonan roti buaya siap untuk dipanggang.

“Dulu awalnya belajar sama teman. Otodidak lah, karena memang belum ada basic,” ujar dia.

Beralamat di di Jalan Saco No 12, Ragunan, Jakarta Selatan, berbagai menu selebrasi Berger Beatawie dapat dinikmati. Diantaranya, Original Berger Croco, Soto Beatawie Berger Croco, Original Berger Turtle, Soto Beatawie Turtle, Roti Buaya Bakar, serta Uli Bakar. Harganya pun cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 25ribu. Menu terbaru, yakni sandwich berger yang juga bisa dicicipi.

Selain bentuknya yang seperti buaya, roti khas Betawi ini juga terinspirasi dari perilaku biaya yang hanya kawin sekali seumur hidup. Perilaku inilah yang kemudian diyakini oleh masyarakat Betawi hingga sekarang.

Tak heran, setiap prosesi pernikahan mempelai lelaki selalu membawa sepasang roti buaya berukuran besar dan kecil. Adapun roti buaya besar disimbolkan sebagai buaya laki-laki, sedangkan roti buaya kecil dilambangkan sebagai buaya perempuan.

Ramadani Wahyu

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.