Wayang Golek Betawi yang Tak Pernah Mati

Wayang Golek Betawi yang Tak Pernah Mati

Wayang Golek Betawi yang Tak Pernah Mati — Wayang golek telah lama dikenal sebagai kesenian yang khas dari Jawa Barat. Kendati demikian, eksistensi wayang golek tak hanya dimonopoli oleh Sunda. Betawi juga ternyata memiliki wayang golek yang khas dengan ceritanya khasnya sendiri.

Mengutip laman KebudayaanKemendikbud, awal mula keberadaan wayang golek ke tanah Betawi dibawa oleh Tizar Muhammad ‘Purbaya’. Ia merupakan seniman dan perajin barang antik ini kelahiran asli Banten dan tumbuh di Jakarta. Inisiasi pengembangan wayang golek dilakukan sebagai upaya agar wayang ini dapat dinikmati masyarakat lebih luas.

Tizar pernah berguru dengan pembuat wayang yakni Aa Him di Bogor. Bahkan, ia sengaja mengunjungi berbagai negara untuk mempelajari wayang lebih dalam. Alhasil, ia sempat membuka stan wayang golek di Pasar Seni Ancol pada 1978.

Baca Juga: Pameran Wayang Nusantara Digelar Sebulan Penuh di Prancis

Sebagai pengembang wayang golek di Tanah Betawi, Tizar melakukan banyak inovasi. Khususnya dalam hal teknik pembuatan wayang golek. Misalnya, terdapat karakter golek yang dapat mengeluarkan air mata atau darah hingga karakter hantu. Kemampuan Tizar untuk membuat wayang golek Betawi ini menambah karakter khas wayang ciptaannya. Ia juga biasa membuat karakter wayang golek yang dapat digerakkan pada bagian-bagian tertentu seperti alis dan bibir.

Perbedaan Wayang Golek Lenong Betawi dan Sunda

Secara sekilas, tak ada perbedaan mencolok antara wayang golek Betawi dengan Sunda. Hal yang paling membedakan yakni saat pertunjukkan wayang golek lenong Betawi acapkali menggunakan iringan gambang kromong. Tema-tema ceritanya pun juga beragam mengikuti legenda Betawi. Misalnya, legenda Si Pitung, dan Si Jampang. Jika biasanya wayang dijalankan oleh seorang dalang tunggal maka dalam pementasan golek lenong Betawi melibatkan seluruh kru yang ada.

Baca Juga: Menilik Pementasan Musik Gambang Kromong Tempo Dulu

Untuk membuat wayang golek Betawi, Tizar menggunakan kayu albasia atau sengon yang mudah diukir. Diperlukan waktu kurang lebih dari 3 hari. Wayang Golek Betawi yang Tak Pernah Mati sebab memiliki keunikan dari cerita-cerita yang dibawakan. Selain menyguhkan cerita legenda Betawi, Tizar juga kerap mengolah peristiwa aktual menjadi pertunjukan yang menarik.

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.