Mengenal Maestro Topeng Betawi Nyi Meh, Berjuluk "Kancil Putih"

Mengenal Maestro Topeng Betawi Nyi Meh, Berjuluk “Kancil Putih”

Senibudayabetawi.com – Perkembangan topeng Betawi di Jakarta sekitar tahun 1930-an tak lepas dari pelestarian pegiat seninya. Berawal kegunannya untuk mengusir berbagai malapetaka dan marabahaya di masyarakat, kini tarian ini menjadi bagian seni budaya Betawi. Oleh karena itu, yuk kita mengenal maestro topeng Betawi Nyi Meh, berjuluk “Kancil Putih”.

 Konon, tari topeng dipercaya memiliki nilai filosofi dan simbolis dalam gerakannya. Bahkan, Sebagian masyarakat Betawi tempo dulu mempercayai tarian ini dapat menghindarkan kekuatan magis dan menjadikan nazar sebagai syarat menolak bala.

Terlepas dari kepercayaannya, ternyata kesenian ini menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih hadirnya maestro alias primadona topeng Betawi yakni Nyi Meh.

Grijn tahun 1977 menyebut bahwa banyaknya jumlah kelompok teater topeng Betawi menunjukkan bahwa kesenian mendapat tempat besar dalam masyarakat. Eksistensi Nyi Meh sebagai kembang topeng juga mendapat sorotan tersendiri.

Kleden dalam disertasinya Topeng Betawi sebagai Teks dan Maknanya, Suatu Tafsiran Antropologi menceritakan kehidupan ronggeng topeng bernama Manol. Manol dan ibunya ditampung oleh Nyi Meh dan menjadikan mereka berdua sebagai anggota rombongan kelompok topeng milik Nyi Meh. Mereka bertiga “ngamen” di sekitar Pasar Mester, Jatinegara.

Kerabat Mpok Nory

Saat itu, Nyi Meh “ngamen” bersama suaminya, Nasir, seniman terkenal Betawi. Karena Nasir adalah kakak Mpok Nory, Nyi Meh memiliki hubungan kerabat dengan Mpok Norry sebagai adik ipar. Setelah berpisah dari Nasir, Nyi Meh menikah dengan Acim.

Dari pernikahannya dengan Acim ini, mereka memiliki anak perempuan bernama Asmeri. Pernikahan kedua ini juga kandas. Nyi Meh kemudian menikah dengan Jayadi. Nyi Meh disebut sebagai istri Jayadi, sang pemilik perkumpulan teater topeng Betawi “Sinar Jaya”.

Dalam Strategi Budaya Topeng Betawi: Studi Kasus Nyi Meh, Maestro Topeng Betawi, lokasi rumah dan sanggar Nyi Meh yakni berada di Jl Makrik No 28 RT 1/5, Rawa Roko, Kelurahan Bojong Rawa Lumbu, Kecamatan Rawa Lumbu, Bekasi. Hampir semua masyarakat Bekasi dan pekerja seni Betawi di Bekasi mengenalnya sebagai maestro topeng Bekasi.

Bohim, pimpinan sanggar “Nyi Meh Putra Adang Group” menyatakan bahwa saat awal menari topeng, Nyi Meh menggunakan tari serimpi terutama adegan Rahwana tertawa sebagai tari pertama. Selanjutnya, ia fokus pada ronggeng topeng atau kembang topeng.

Tak Menjalani Ritual Kemenyan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Sebagian besar pemain sandiwara hingga penari Betawi melakukan ritual kemenyan. Uniknya, Nyi Meh dikenal sebagai satu-satunya orang di dunia pertunjukan Betawi yang tidak menjalani ritual tersebut.

Secara sadar ia menolak ritual tersebut karena baginya menari harus murni menari, tidak ditambahi ritual apa pun. Ritual bakar kemenyan tak lebih melakukan perjanjian dengan setan atau jin agar membuat Namanya tersohor dan kaya.

Berjuluk “Kancil Putih”

Namun, Nyi Meh mampu membuktikan tanpa ritual itu, nyatanya kiprah Nyi Meh dalam berkesenian tetap dihargai dan digemari masyarakat. Usianya pun panjang. Ia tetap terkenal dan bahkan menjadi primadona dalam tari dan teater topeng Betawi. “Kancil Putih” merupakan julukan Nyi Meh dalam dunia teater topeng Betawi.

Sebutan “Nyi Meh” sendiri merupakan julukannya dalam dunia tari topeng Betawi. Ketenarannya dalam teater topeng Betawi tersohor sampai ke luar daerah Jakarta. Hal ini terlihat dari datangnya beberapa permintaan dari masyarakat Bandung padanya untuk menunjukkan kemampuannya dalam mementaskan tari dan teater topeng Betawi.

Ramadani Wahyu

1 Response

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.