Awal Mula Perkembangan Fotografi di Hindia Belanda

Awal Mula Perkembangan Fotografi di Hindia Belanda

Senibudayabetawi.com – Jauh sebelum fotografi berkembang, sepanjang abad ke-17 hingga ke-18, telah banyak penjelajah Eropa yang merekam perjalanan mereka ke Hindia Belanda melalui tulisan dan lukisan. Keberadaan fotografi di Hindia Belanda mulai berkembang sejak pemerintah kolonial menyadari pentingnya foto untuk merekam dan mengeksplor lanskap dan kehidupan di Hindia Belanda.

Kali pertama fotografi di Hindia Belanda adalah dibawa oleh Jurrian Munnich, petugas kesehatan dari Belanda pada pertengahan abad ke-19. Ia diperintahkan oleh Dutch Ministry of Colonies untuk melakukan ekspedisi ke Pulau Jawa sebagai fotografer. Salah satu ekspedisinya tersebut berjudul Verslag over de photographie gedurende het tweede gedeelte mijner reis over Java.

Laporan Munnich tentang uji coba fotografi yaitu mengabadikan Candi Prambanan, Borobudur dan Kompleks Candi Dieng, Jawa Tengah. Selanjutnya pada 1844, seorang fotografer Jerman yang memiliki studio foto di Den Haag, Belanda mendapatkan izin untuk melakukan ekspedisi ke Hindia Belanda.

Studio Foto Pertama di Batavia

Menariknya, sesampainya di Batavia, ia lalu mendirikan studio foto yang merupakan studio foto pertama di Batavia. Setahun kemudian Schaefer berhasil menyanggupi permintaan pemerintah kolonial untuk mendokumentasikan relief-relief di Candi Borobudur. Schaefer berhasil membuat 58 foto, yang belakangan menjadi media pendukung penelitian arkeologi.

Kendati demikian, pemerintah Hindia Belanda sempat berhenti memanfaatkan fotografi lalu berlanjut pada 1851, saat Isidore van Kinsbergen, tiba di Batavia pada tanggal 26 Agustus. Ia ditugaskan Batavian Society of Arts and Sciences untuk mendokumentasikan benda-benda peninggalan peradaban Hindu-Buddha. Karyanya dipamerkan di berbagai negara Eropa sepanjang 1873.

Fotografi Komersial

Pemanfaatan fotografi di Batavia pada 1850- an mulai meluas, yang sedianya sebagai eksplorasi kawasan kolonial lalu menjadi komersial. Ini terlihat dari maraknya fotografer keliling untuk membuat foto keluarga orang-orang Eropa di Batavia. Tidak sedikit dari mereka yang beriklan di surat kabar. Khususnya Java Bode, sebagai koran berbahasa Belanda yang populer di kalangan masyarakat Barat di Batavia.

Fotografer keliling yang tinggal cukup lama di Batavia adalah Antoine Francois Lecouteux. Sepanjang 1854-1857 fotografer ini tercatat mendirikan studio foto, Groot Photographisch Atelier van A. Lecouteux di Noordwijk, Batavia. Selama itu pulalah ia beriklan di Java Bode. Tahun yang sama pula, studio foto Woodbury & Page didirikan di Batavia. Studio foto ini menawarkan potret kepada publik dalam iklan surat kabar Java Bode.

Keberhasilan usaha fotografi di Batavia membuat banyak fotografer membuka studio fotografi di beberapa kota besar di Jawa yang terdapat banyak pemukiman orang Eropa. Tidak hanya klien orang Eropa, industri dan pemerintah residen juga menyewa jasa foto studio ini.

Fotografer Pertama di Bumiputra

Menariknya, pada dekade terakhir abad 19 turut muncul fotografer bumiputra pertama bernama Kassian Cephas sebagai fotografer Kasultanan Yogyakarta. Saat itu raja yang berkuasa adalah Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Nama Cephas juga dikenal sebagai fotografer pembawa modernitas.

Gejolak fotografi juga massif di daerah dan pulau lain di Nusantara. Misalnya pada 1870, Dane Krister Feilberg sampai di Danau Toba, Sumatera Utara dan mengambil foto-foto pertamanya. Lalu ada studio foto di Singapura G.R. Lambert & Co yang membuka cabangnya di Medan pada 1880.

Ramadani Wahyu

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.