Kependudukan Jepang, Maen Pukulan Betawi Justru Berkembang Pesat

Kependudukan Jepang, Maen Pukulan Betawi Justru Berkembang Pesat

Senibudayabetawi.com – Pada awal masa pendudukan Jepang, ilmu bela diri lokal dijadikan sarana propaganda, guna membangun spirit perlawanan terhadap penindasan bangsa-bangsa barat. Ini juga berlaku bagi silat di Nusantara seperti maen pukulan Betawi.

Pada masa-masa akhir kekuasaan pemerintah militer Jepang, segala potensi bangsa Indonesia, termasuk ilmu bela diri tradisionalnya dimanfaatkan untuk kepentingan Jepang dalam menghadapi sekutu.

Dalam buku karya D.J Nawi Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi, tanah Betawi atau Batavia yang di masa Jepang diubah menjadi Jakarta, dijadikan pusat pelatihan ilmu bela diri tradisional tradisional (pencak silat) yang ada di seluruh Indonesia. Ini tertuang dalam surat anjuran pucuk pimpinan pusat kepada daerah. Beberapa anjuran pokoknya yaitu:

1. Persiapan-persiapan Tjabang Iboe-kota Daerah, hendaknja selekas moengkin berhoeboengan dgn. Kantor Besar oentoek menerima beberapa pendjelasan tentang organisasi.

2. Perkoempoelan2 pentjak hendaknja selekas moengkin poela mengirimkan daftar Pengoeroes, daftar goeroe-goeroe pelatih dan anggota, kepada Kantor Besar dan selandjoetnya mengadakan hoeboengan dengan persiapan-persiapan Tjabang Poesat Daerah.

3. Para goeroe pentjak harap selekas moengkin mengirimkan keterangan-keterangan tentang nama, oemoer, alamat, aliran apa serta djoemlah pengikoet serta selekas-lekasnja poela berhoeboengan dgn persiapan-persiapan Tajabang Poesat Daerah

4. Badan-badan jang mempoenjai poesat latihan jang ingin anggotanja mendapat peladjaran Pentjak harap selekas moengkin berhoeboengan dengan Kantor Besa

5. Iboe-kota iboe-kota Daerah jang beloem mempoenjai Badan Persiapan Tjabang jang menaroeh minat terhadap Geakan Latihan Pentjak dan Silat, haraplah selekas moengkin berhoeboengan dgn. Kantor Besar di Gambir Barat No. 7 Djakarta.

Di Jakarta pula, pemerintah militer Jepang (Gunseikanbu) mendirikan pusat pelatihan ilmu keprajuritan dan ilmu bela diri (Budo). Ini sebagai menstimulasi dan memfasilitasi ilmu bela diri tradisional maupun ilmu bela diri Jepang.

Pusat pelatihan ini disebut dengan Butokuden (pusat pelatihan ilmu bela diri Nippon) yang didirikan pada 8 Januari 1944, bertempat di Jakarta Tokubetsu Si, Jl. Vrijmetselaar No 1.

Ilmu Bela Diri Tradisional Harus Bangkit

Ilmu bela diri tradisional di tiap-tiap daerah harus dihidupkan, termasuk maen pukulan Betawi. Sebaliknya pencak silat yang berunsur seni profran seperti seni ibing pencak yang menggunakan instrument kenong atau bende sepat dilarang pemerintah Jepang.

Seni profan dianggap tak merepresentasikan maen pukulan atau pencak silat sebagai sebuah ilmu bela diri murni. Di sisi lain, penggunaan kenong atau bende dianggap mengganggu stabilitas keamanan. Pasalnya, keduanya digunakan pemerintah militer Jepang sebagai alat pemberi tanda bahaya, adanya serangan udara pada tiap kampung di Jakarta dan sekitarnya.

Pemerintah Jepang Sadar Potensi Para Jago Maen Pukul Betawi

Digalakkannya maen pukulan Betawi dan pencak silat Indonesia oleh pemerintah Jepang berdampak pada eksistensi jago-jago. Pemerintah militer pusat Jepang di Jakarta paham, penduduk natif Jakarta yang memiliki tradisi jago berpotensi sebagai penyumbang pertahanan negara.

Adapun pemerintah pusat Jepang di Tokyo pada waktu itu memiliki kebijakan terkait kekuatan pertahanan negara. Salah satunya dibangun melalui kekuatan ilmu bela diri. Kebijakan ini yaitu membentuk Majelis Ilmu Berkelahi Lembaga Asia Timur Raya.

Program lembaga ini juga mengirimkan para ahli ilmu bela diri ke negri-negri di Asia Timur Raya. Mereka jugamengadakan pertandingan atas anjuran Lembaga Asia Timur Raya di negeri-negeri terkait.

Ramadani Wahyu

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.