Memaknai Nilai Tradisi dan Akulturasi Kuliner Betawi

Memaknai Nilai Tradisi dan Akulturasi Kuliner Betawi

Senibudayabetawi.com – Kuliner merupakan salah satu jendela budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi dan nilai-nilai luhur suatu masyarakat. Hal ini pun terlihat jelas dalam hidangan khas Betawi, suku asli Ibukota Jakarta yang terkenal dengan keramahan dan keluwesannya.

Lebih dari sekadar memanjakan lidah, menyantap kuliner Betawi bagaikan menyelami kearifan lokal yang tertanam kuat dalam keseharian mereka. Cita rasa yang kaya dan beragam mencerminkan akulturasi budaya Betawi yang dipengaruhi oleh berbagai etnis, seperti Tionghoa, Arab, dan Portugis.

Soto Betawi

Salah satu contohnya adalah soto Betawi, hidangan berkuah santan gurih dengan isian daging sapi, jeroan, dan kentang yang dimasak dengan rempah-rempah khas. Soto Betawi bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga melambangkan semangat persaudaraan dan gotong royong karena biasa disajikan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama keluarga dan tetangga.

Dalam The Spice Route from Arabic, Europe and China to Jayakarta toward Batavian Cuisine, konon, soto Betawi berasal dari Tiongkok. Saat itu, Batavia yang merupakan nama lama dari Jakarta merupakan pusat perdagangan masyarakat dari berbagai etnis termasuk Tionghoa. Soto berasal dari China yang namanya Chaudo.

Pengaruh lain yaitu dari Arab dan India yang pada soto Betawi ditandai dengan penggunaan ghee atau minyak ghee yang melambangkan keharmonisan yang kokoh dalam masyarakat Betawi.

Kerak Telor

Kuliner kerak telor, jajanan kaki lima yang terbuat dari telur, beras ketan, dan ebi, merepresentasikan kesederhanaan dan kecerdikan masyarakat Betawi dalam memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka. Kuliner ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menjadi simbol keuletan dan kegigihan dalam mencari nafkah.

Melansir indonesiakaya, kerak telor kerap disebut sebagai omelette Betawi karena memang bentuknya mirip telur dadar. Ini terbuat dari kreasi etnis Betawi kota yang bermukim di kawasan Menteng selama masa penjajahan VOC di Indonesia. Itulah kenapa kerap kali disebut makanan kesohor.

Awalnya, warga Belanda yang terbiasa mengonsumsi omelette mi berkeinginan makanan yang lebih sehat, sekelompok masyarakat Betawi Menteng lalu berinisiatif mengganti mi dengan beras ketan. Adapun bahan-bahan lain yaitu ditambahi dengan udang kering, merica, garam, telur ayam dan bebek dan kelapa. Kebetulan saat itu di Batavia bahan seperti kelapa sudah sangat limpah ruah sehingga menjadi bahan utama membuat kerak telor.

Nasi Ulam

Kuliner lain yang tak kalah populer yaitu nasi ulam. ‘Ulam’ dalam bahasa Betawi merujuk untuk penyebutan serundeng dari kelapa parut yang diaduk dengan nasi putih panas.

Dalam Ensiklopedia Jakarta, nasi ulam merupakan produk persilangan beberapa kuliner budaya. Nasi putih ditaburi serundeng dan kacang misalnya yang merupakan pengaruh dari India. Sementara semur sebagai pelengkap merupakan pengaruh kuliner dari Belanda.

Demikian pula dengan perkedel (berasal dari versi lokal frikadeller-gorengan berbahan kentang dan daging dari Belanda). Pengaruh kuliner Tionghoa tampak terlihat dalam penggunaan bihun goreng dan dendeng manis. 

Melestarikan kuliner Betawi berarti melestarikan warisan budaya yang tak ternilai. Menikmati hidangan khas Betawi bersama keluarga dan kerabat adalah sebuah cara untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkaya pengalaman kuliner kita.

Ramadani Wahyu

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.