Memaknai Sirih Dare dalam Tradisi Pernikahan Betawi

Memaknai Sirih Dare dalam Tradisi Pernikahan Betawi

Senibudayabetawi.com – Sebanyak 14 lembar daun sirih dilipat terbalik, ujung serta batangnya tidak dibuang. Di tengah-tengahnya diberi sekuntum mawar merah nan indah. Persembahan sirih dare tersebut diberikan sebagai persembahan pengantin pria pada mempelai perempuan yang melambangkan cinta kasih.

Sirih dare merupakan elemen penting dalam ritual pernikahan adat Betawi. Lebih dari sekadar daun sirih, tapi memiliki makna dan filosofis mendalam.

Daun sirih dare biasanya dibawa oleh mempelai pria sebagai simbol kesiapannya untuk menikah dan menafkahi calon istrinya. Setelah sirih diberikan pada mempelai pengantin perempuan, sirih dare kemudian dipotong dan dibagikan kepada para tamu undangan sebagai simbol doa restu dan harapan baik bagi pernikahan.

Sebanyak empat belas lembar (tujuh lembar di kiri dan tujuh lembar dikanan) dilipat terbalik, ujung dan batangnya tidak dibuang. Di tengah-tengahnya diberi sekuntum mawar merah. Dimasukkan kedalam karton berbentuk segitiga yang dilapisi kertas emas.

Pada zaman dahulu di dalam lipatan daun sirih dimasukkan uang kertas dengan nilai tertinggi pada masa perkawinan berlangsung (tidak kelihatan dari Iuar). Sirih dare ini diberikan sebagai persembahan penganten pria kepada mempelai putri untuk mengajaknya duduk bersanding. Yang merupakan lambang cinta kasih suami kepada isterinya.

Makna Sirih Dare

Adapun untuk makna sirih dare yaitu simbol kesucian dan kebersihan yang melambangkan kesucian dan kebersihan baik fisik maupun spiritual. Ini sekaligus untuk menyucikan diri dan memulai kehidupan yang suci bersama pasangan.

Tak hanya itu, bentuk anyaman sirih dare yang menyatu juga melambangkan persatuan dan kesatuan antara kedua mempelai. Ini sekaligus menunjukan komitmen untuk saling mengikat dan membangun kehidupan berumah tangga.

Daun sirih yang hijau dan subur melambangkan harapan akan kesuburan dan kemakmuran bagi pasangan pengantin. Diharapkan mereka akan dikaruniai keturunan yang sehat dan kehidupan yang sejahtera. Selain itu sirih dare juga merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan tradisi budaya Betawi.

Penggunaan sirih dare dalam ritual pernikahan menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.

Ramadani Wahyu

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.