Permainan Tradisional Betawi Ujan Angin yang Populer di Marunda

Permainan Tradisional Betawi Ujan Angin yang Populer di Marunda

Senibudayabetawi.com Permainan tradisional Betawi ini tergolong unik di balik nama permainannya Ujan Angin yang diartikan “kadang-kadang dapat, kadang-kadang tidak”. Adapun maksudnya kadang digendong atau kadang justru menggendong terus. Sesuai dengan arti namanya, permainan ini mewajibkan regu yang kalah untuk menggendong lawannya yang menang.

Dalam Permainan Tradisional Anak Betawi (2011) oleh Hermansyah dan Iwan Ujan Angin dikenal sebagai salah satu permainan yang seru dan menyenangkan. Sebab, permainan ini melibatkan dua regu dengan anggota minimum berjumlah tiga orang.

“Cie.. hui. Gue digendong kude.. eek..eek..eek..neng,”

Begitulah kiranya sorai-sorai regu pemenang yang digendong sembari menirukan suara kusir kuda. Nah, biasanya anggota regu yang hampir kalah justru “udeh ngibrit lari” atau sudah kabur berlari sehingga regu pemenang merasa dirugikan dan nguber atau mengejar. Bila tertangkap, mereka akan meneke atau menjitak anak yang melarikan diri tadi.

Cara Bermain Ujan Angin

Permainan Ujan Angin juga membutuhkan gacoan yakni berupa pecahan genteng atau apa saja yang pipih dan cukup berat untuk dilempar. Ini bertujuan agar gacoan tak mudah terbawa oleh angin.

Setelah menentukan jarak antara garis I dan II atau teit dengan pasangan lawan yang seimbang maka selanjutnya pada pemain berusaha melemparkan gacoannya ke posisi teit.

“Tee.. iiit!” Suara pemain sembari melempar gacoan.

Adapun setiap regu yang anggotanya berhasil melempar gacoan sebanyak 3 kali berturut-turut pada posisi teit maka dinyatakan sebagai pemenang. Para pemenang inilah yang berhak untuk digendong regu yang kalah.

Permainan Ujan Angin banyak dikenal oleh penduduk di Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di Kelurahan Koja utara sendiri, permainan ini lebih dikenal dengan nama angin-anginan.

Menariknya, permainan ini banyak digemari oleh anak-anak sekitar tahun 1950-an hingga mencapai puncak sekitar tahun 1964-1965. Hingga pada tahun 1965 sampai 1968, permainan ini sudah tidak begitu populer namun pada 1969 sempat muncul kembali.

Ramadani Wahyu

1 Response

Leave a Reply

SEKRETARIAT REDAKSI

Jl. H. Sa’abun No.20, Jati Padang, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540.